Postingan

AKU MENYUKAI HUJAN

Dengar aku,
Aku ingin mengatakan bahwa
Aku menyukai hujan
Namun, katanya…
“Jika menyukainya, tak seharusnya aku menghindarinya
Seperti saat ini”
Di saat hujan turun
Aku lebih suka bernaung di balik atap
Padahal aku bilang--aku menyukai hujan
Sebenarnya, apakah aku salah
Jika aku menyukai hujan tapi menghindar bersentuhan dengannya?
Bukankah menyukai tak selalu harus bersentuhan?
Menyukai hujan, bukan berarti aku harus membiarkan tubuhku basah olehnya
Sungguh, ini bukan tentang kepura-puraan aku menyukai hujan
Aku hanya takut menggigil karena
Perasaanku akan menjadi serakah
Jika aku datang dan memeluk hujan
Maka, aku akan sangat sakit
Jika dia tak sengaja menyakitiku
Lantas, aku akan membenci kehadirannya (lagi)
Biarlah aku bernaung di sini
Sembari melihatnya dari jauh
Hanya dengan begitu sudah cukup membuatku senang
Saat hujan di Kota Malang,
27 November 2017
Terbit juga di Tumblr: einidshandy

PATAH HATI DAN TUHAN

Aku pernah patah hati (berkali-kali)
Lantas, pernahkah kamu patah hati?Aku harap kamu tidak, jangan pernah sesekali patah hati. Karena patah hati hanya makanan mengenyangkan bagi orang-orang kuat. Ya, salah satunya aku--seseorang yang telah kamu patahkan hatinya.

Semakin hatiku patah, semakin aku kuat. Serius! Aku enggak bohong sama kamu. Tapi, tunggu! Sudah berapa perempuan yang kamu patahkan hatinya? Sampai-sampai kamu terlalu hebat dalam mematahkan hatiku. Sudah berapa lama kamu mengasah otakmu untuk mematahkan hati seorang perempuan?

Patah hati kali ini teramat sangat menyakitkan. Belum pernah aku mengenal patah hati yang seperti ini. Namun, aku tak berakhir bunuh diri. Kamu tahu kenapa? Masih banyak mimpi-mimpi yang harus kuwujudkan demi orang-orang yang aku sayangi.

Menyesal? Itu pasti. Tidak mungkin aku tidak menyesali atas kebodohanku sendiri.
Namun, meski ada banyak penyesalan tentang dirimu, berkali-kali aku bersyukur pernah mendapatkan patah hati mematikan darimu. Biarkan aku me…

KARENA LUKA-LUKA DI TUBUHKU

Hanya waktu yang dapat menyembuhkan luka?

Bagaimana aku bisa mempercayai waktu. Apa yang tengah dilakukan waktu untuk menyembuhkan lukaku? Waktu tak melakukan apa-apa untuk menyembuhkan lukaku. Tidak! Tanpa aku, waktu tak kan mampu menyembuhkan luka-lukaku.

Luka-luka ini hanya akan terus menerus berlubang dengan darah berceceran ke lantai dan tanah, jika dibiarkan terus terbuka. Lalu, aku hanya akan kehilangan banyak darah sebelum aku benar-benar hilang kesadaran. Lantas, bagaimana waktu akan menyembuhkan luka-luka ini?

Aku harus menjahit hati ini sendiri.
Maka, malam itu kuputuskan untuk mengambil benang-benang yang jatuh dari langit. Lalu, aku mengambil duri terpanjang dan tertajam yang ada di teras rumah. Lantas, aku mulai menjahit luka-luka di tubuhku--berharap luka-luka ini mengering dan bahkan tak membekas, kalau boleh.

Namun, aku tahu. Luka mana yang akan mengering tanpa bekas? Ia akan terus menjadi tatto yang mengikuti kita.

Setiap kali aku menusukkan jarum berbenang ini, aku tering…

BERHENTI MENCARI CINTA: BUKAN KARENA TELAH MENEMUKANNYA

Seandainya ada yang datang dan aku membukakan pintu hatiku
Maukah kamu masuk tanpa pernah pergi (lagi)?
....

Mencintai tak sesederhana bayangan indah kita, pun demikian dicintai. Namun, bukan berarti mencintai maupun dicintai sesulit itu. Hanya saja, cinta itu sesuatu yang rumit. Ia melibatkan masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.

Aku “harus”: tetap bahagia
Sesederhana itu yang aku katakan untuk diriku sendiri dan aku menempelkannya tepat di hatiku. Tidak terlalu berlebihan bukan? Ya, karena hatiku membutuhkan asupan vitamin setiap hari dan itulah vitaminku.

Saat aku melihat diriku sendiri. Aku menyadari bahwa selain ada aku yang semakin berumur, orang-orang tersayang yang ada di sekitarku pun sama. Tanpa harus melihat KTP mereka--aku tahu, kulit dan rambut mereka mulai kusut seperti uang kertas yang telah berpetualang dari tangan ke tangan.

Maka, aku percaya waktu tidak (akan) pernah berhenti. Bukankah kamu juga menua? Dari sinilah, aku menyadari bahwa aku seharusnya telah menemukan cin…

Review Novel: "O" Karya Eka Kurniawan

Gambar
Judul: O Penulis: Eka Kurniawan Penerbit: Gramedia Pustaka Umum (GPU) Cetakan pertama Maret 2016 Halaman: 470 ISBN: 978-602-03-2559-0
O – bukankah judulnya terlalu sederhana dengan cover seekor monyet? Dan banyak orang yang mengenal karya Eka Kurniawan mengatakan bahwa novel O adalah novel yang bercerita tentang seekor monyet yang ingin menjadi manusia. Ini begitu lucu dan sederhana? Tapi, bukankah menggelitik? Apalagi jika sudah mengenal Eka Kurniawan melalui karya-karyanya yang sebelumnya. Bagaimana dia mengemas isi ceritanya kali ini?
TENTANG SEEKOR MONYET YANG INGIN MENIKAH DENGAN KAISAR DANGDUT“A master novelist not to be missed.”Oprah.com(Cover belakang)

Review: FOR ONE MORE DAY BY MITCH ALBOM

Gambar
“Mothers hold their children’s hand for moment and their heart for lifetime”. From the quotation, it can be understood that parents have the good role to nurture their children, especially a mother. The parents nurture children with their actions and their feelings. In order for children to develop in all aspects, the parents must have supported in all areas.

Without a Teacher, I’m not like Today

Gambar
“What do you do now?” “I work at office. What’s your job?” “Great! Well, I’m a Doctor.” “Really? I should visit you if I’m sick.” “Haha… You must.” “Back to the time we were students, both of us were really naughty.” “But, I remember one of our teachers has never been bored reminding us to be good people.”
So, what do you work now? Or are you still a student? Ingat! Kamu bisa sampai di titik sekarang itu selain karena orang tuamu, ada orang tua kedua—yes, your teacher. Kamu tanpa mereka, kamu tidak akan bisa di titik sekarang. Meskipun sekarang kamu masih sekolah ditingkat yang lebih tinggi, kerja, atau hanya di rumah. Siapapun kamu? Apapun yang kamu lakukan? Entah itu jadi Pedagang Kaki Lima (PKL), tukang parkir, atau bahkan jadi orang hebat di dunia ini.